Rabu, 27 April 2011

Pacar Kedua


Pertandingan antar sekolahpun dimulai. Aku yang pada saat itu mewakili empat lomba sekaligus pun berusaha professional. Untuk lomba puisi aku mendapatkan juara tiga (lumayan lah), untuk lomba pidato aku juga mendapat juara tiga (so flat lah), lomba siswa berprestasi yang saat itu aku menunjukkan bakat menyanyiku aku berhasil mendapatkan runner up. Sedangkan lomba bulutangkis, aku gugur di perempat final.
Ucapan selamat datang dari berbagai pihak. Terima kasih atas dukungan teman-teman semua. Ini adalah awal yang bagus untuk berkarya. Ditengah bahagiaku, aku ingat dengan Satria. Aku belum mendengar kabarnya sedikitpun, “Tu anak ngumpet dimana ya?!”.
Keesokan harinya pak guru mengumumkan siapa saja yang berhasil menang di lomba antar sekolah dan menganjurkan para pemenang untuk tampil kedepan (saat itu upacara bendera di lapangan). Aku yang pada saat itu maju kedepan sebanyak tiga kali, mendapat sorak paling heboh dari teman-teman (mungkin dihati mereka “buset dah..ni anak eksis banget yaa!).
Seusai upacara, terdengar suara yang memberiku selamat.
“Hey Bu… selamat yaa..?!” Satria menyapaku.
“Hey pak… kemana aja dari kemaren gak keliatan?”, aku penasaran.
“ngumpet dibelakangmu.. makanya jadi orang jangan terlalu gendut biar bisa ngeliat orang”. Jawabnya.
Aku merasa ambigu (krik krik) “Emangnya gue gendut? Segendut apa sih gue ampe Si Satria sinting itu ngejekin gue mulu? Huhhh menyebalkan”, gumamku dalam hati.
“Eh Ve,, aku denger ada yang suka sama kamu tuh..!!”, katanya kemudian.
“hah?? Siapa?”, tanyaku penasaran.
“Ada… kakak kelas B, dia temennya temenku, katanya dia suka sama kamu.. ayo buka hatimu”, jelasnya.
“tau ah silau…hahaha..”, aku tak peduli dan bergegas masuk kelas.
Teeetttt teeetttt teeeetttt. Bel berbunyi tanda istirahat. Teman-teman sibuk mengemas buku pelajaran dan melanjutkan perbincangan dengan teman yang lain (taulah kelas unggulan, anaknya kebanyakan cupu dan males ke kantin). Ketika situasi membosankan seperti itu, yang aku lakukan adalah membuka catatan lagu yang aku tulis dalam buku khusus dan menyanyi sesuka hatiku. Dengan begitu perhatian tertuju padaku dan setidaknya mampu menghentikan obrolan mereka tentang hal yang seharusnya menjadi urusan presiden dan jajarannya. Sebenarnya kalau aku sudah mulai mendendangkan sebuah lagu, mereka bisa ikut menyanyi, dan melupakan sejenak pembahasan sok dewasa mereka. Aku suka itu.
“Ve, ada yang manggil..”, kata naming teman sekelasku. “wah.. sekarang bergaulnya udah ama kakak kelas uii..” tambahnya.
Akupun keluar kelas dan sempat terkejut, karena ternyata yang datang adalah Adi dan Jefry (teman sekelas adi sekaligus cowok cantik yang pandai menari).
“Ada apa kak?”, tanyaku.
“Gak apa-apa, ada yang pengen ketemu sama kamu Ve”, jefry menjawab.
“oh ada apa?”, aku mengulangi pertanyaanku.
Mereka berbisik lirih sampai aku tak mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan.
“Hey.. Saya sedang bertanya kak..!!!”, aku berusaha menghentikan perbincangan lirih mereka.
Tiba-tiba Adi pun angkat suara, “Aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacarku?”.
(Gokill… ini cowok sinting kayaknya, gak ada basa basinya maen DORRR aja, ampe shock gue) gumamku dalam hati.
Teeetttt teeeeettt…. Bel masuk berbunyi dan menyisakan rasa penasaran dalam hati kakak kelasku itu tentang jawabanku.

Dan Persahabatan Dimulai

Rumor kedekatanku dengan Satria kembali menghebohkan sekolah. Tapi kita tidak pacaran atau istilah bekennya CLBK (cinta lama belum kelar). Dia menganggapku sebagai sahabat baiknya, begitu juga denganku. Suatu ketika aku dikagetkan dengan kehadirannya pada saat latihan Bulutangkis. Kebetulan saat itu aku terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk lomba antar sekolah. Ternyata dia juga terpilih, tapi karena waktu penyeleksian antara cowok dan cewek berbeda, jadi aku tidak tau.
“Loh…kamu ikutan lomba?” tanyaku kaget.
“Iya dong… kamu ngapain disini Ve?” dia bertanya balik.
“Loh.. aku kan ikut juga,,” jelasku.
“Hahahahaaaa…” dia tertawa ngakak. “Cewek gendut emang bisa maen bulutangkis?” ejeknya.
“Hasssshhh… sialan… lu ngejek gue?” gumamku dalam hati. “Hoho buktinya aku lolos seleksi”, aku menyangkal.
“Halaaahh.. itu kebetulan, pas kamu diseleksi, pak Sugiyo lagi kebelet ke WC” Satria meledek.
“Terserah apa katamu lah, ayo lawan aku..!” aku menantangnya.
Aku dan diapun latihan bersama. Hari itu kali pertama aku bercanda lagi dengan Satria setelah beberapa bulan ini persahabatan kami membeku.
“Ve,, setelah latihan jangan pulang dulu. Kita disuruh kumpul sama semua peserta lomba”, Satria mengingatkanku.
Aku hanya mengangguk dan meneruskan latihanku bersama peserta yang lain.
Latihanpun usai, aku istirahat sejenak dan lanjut berkumpul di ruangan bersama peserta lain.
Di ruangan itu, aku bertemu dengan sahabatku dari kecil dan sekaligus tetanggaku dirumah, namanya Fery dan Noni yang kebetulan dia ikut di olahraga Volly. Kita bertiga sangat akrab, dan kalau kita sedang bertemu, suka bikin heboh dimana-mana.
Technical meetingpun usai, dan aku kembali berkumpul dengan dua sahabat gilaku setelah aku mengucapkan sampai jumpa dengan Satria. Fery dan Noni mengajakku pulang bersama, dan kebetulan saat itu aku belum dijemput.
Ada seorang cowok, dia peserta dari cabang olahraga Volly yang tiba-tiba menyapaku.
“Hai.. kamu temennya Fery ya?” Tanyanya padaku.
“Iya..” aku menjawab. “Kamu siapa? Sepertinya kita belum saling kenal sebelumnya..” aku bertanya balik.
Fery menyambung pembicaraan kami, “Waah… ada yang pedekate nii?”. “Dia Adi, kakak kelas kita Ve”, dia menjelaskan.
“Oh maaf kak, saya kira kakak satu angkatan sama saya”, jawabku gugup. (Gila.. tadi gue kasar banget ngomongnya, gue kira cowok SKSD darimana, eh ternyata kakak kelas).
“hahaha.. kamu lucu,, tadi jutek, sekarang malah gugup” Adi menertawakanku.
Dari pembicaraan singkat itu, akhirnya aku akrab dengan Adi. Aku, Fery, Noni, dan Adi pulang bersama dan menutup perjumpaanku dengan Adi saat ia sampai didepan rumahnya. Maklum rumahnya lebih dekat dengan sekolah daripada rumah kami bertiga.


Mencoba Bangkit


Setelah kenaikan kelas itu, aku memulai hariku yang baru. Sikapku pada Satria terkesan biasa dan bahkan jarang terlihat saling menyapa. Bagiku, kebohongan yang ia buat adalah satu pelajaran yang sangat berharga dan kuharap ini tak akan terulang untuk yang kesekian kali.
Suatu ketika aku berjalan menuju kantor kepala sekolah. Tiba” terdengar mengagetkanku, “Waahhh.. bu ketua makin sibuk saja..!!”. Oh tidak.. itu suara Satria. Aku berusaha bersikap biasa dan hanya tersenyum simpul.
Terkadang aku berpikir, kenapa aku harus canggung dihadapan Satria sedangkan ia tak sedikitpun canggung terhadapku. Apa aku terlalu berlebihan menyikapi masalahku dengannya?, apa aku terlalu egois, karena ingin memilikinya seutuhnya?, atau apa karena aku terlalu dekat dan tak terbiasa jauh darinya?. Ada yang hilang dalam diriku, ada yang kurang dalam hariku. Dia adalah teman yang selalu bertingkah aneh saat aku tegang menghadapi semua tugas. Dia adalah penghibur saat wajahku mulai geram ketika aku harus menghadapi teman-teman yang Bengal. Tapi sekarang tak ada orang sepertinya di kelasku yang baru.
Kelasku yang baru penuh dengan orang-orang yang sok jenius. Mereka menganggap buku pelajaran adalah sahabatnya. Bahkan topik perbincangan mereka hanya seputar pelajaran. “Oh my God, sepertinya gue kesasar di kelas ini” gumamku. Nilai raporku memang bagus, tapi aku tidak pintar seperti mereka. Sekelas dengan orang-orang seperti mereka seperti sekelas dengan para aliens yang bahasanya sangat tinggi dan sulit untuk dimengerti. Tapi aku suka.
Mereka mengajarkanku bagaimana sebuah tujuan dicapai dengan keseriusan. Bergaul dengan mereka, aku menjadi pribadi yang baru. Selain aku semakin rajin belajar, bakat-bakatku juga nampak. Karena kelasku menjadi sorotan oleh para guru.
Aku menjadi sedikit terkenal karena aku berhasil mewakili sekolah untuk lomba puisi, lomba pidato, lomba siswa mewakili sekolah untuk lomba puisi, lomba pidato, lomba siswa prestasi, dan lomba yang lain. Selain itu, aku juga menjadi kandidat Ketua OSIS. Ada hikmah yang tersimpan dari cobaanku kemarin. Tuhan itu Maha Adil guys.
Dari semua yang telah aku dapat sekarang, aku berani memastikan bahwa aku baik-baik saja. Aku sudah berani menyapa Satria. Walaupun itu masih terlihat sangat kaku. Tapi untuk suatu awal yang baik, semua ini patut diacungi jempol. Karena Hidup yang lebih baik, dapat diwujudkan dengan belajar dari sebuah hal yang buruk (masa lalu).

Senin, 25 April 2011

Belajar dari Rasa Sakit

Cerita cintaku bersama Satria mungkin hanya cinta monyet. Aku yang jadi cintanya dan dia yang jadi monyetnya, haha. Tak ada kata kencan, tak ada candle light dinner, tak ada romantis, everything is so flat. Ketemu cuma di sekolah, kencannya kalo pas lagi jalan dari kelas ke kantin, dan begitulah seterusnya. Suatu ketika dia kepergok jalan bareng, kencan, atau apalah artinya itu dengan teman sekelasku "Irma namanya". Aku sih biasa aja (namanya juga baru belajar mengenal cinta), jadi belum ada kata cemburu.
Selang waktu berlalu, dia sangat sibuk dengan band nya, dan aku juga sibuk dengan urusan organisasi yang saat itu aku tekuni, kisah cintaku pun seakan terlupakan. Sempat terpikir bahwa ternyata antara cinta dan teman gak ada bedanya. Kita sibuk dengan pekerjaan masing".
Sempat dia menawariku untuk menjadi seorang vokalis di band yang dia buat bersama teman"nya. Tapi aku menolak, karena aku tidak diijinkan untuk keluar malam oleh orang tuaku. Dia pun menerima keputusanku itu.
Awal dari kandasnya hubunganku dengannya adalah ketika dia terlihat dekat dengan kakak kelasku yang terkenal pintar dan anak guruku "May namanya". May sangat mengagumi Satria ketika satria sedang menggebuk drumnya. May yang saat itu menjadi pengurus inti dalam organisasi OSIS pun bermaksud memasukkan Satria ke dalam organisasi. Tapi kakak kelas yang lain menolak dengan alasan belum adanya waktu perekrutan anggota baru. Aku mulai curiga knapa itu bisa terjadi.
Sempat aku mendengar percakapan antara May dengan Satria. Saat May bertanya tentang apa hubungan antara aku dan Satria. Dia menjawab singkat bahwa aku dan dia hanya teman. "Whattt???...gue gak salah denger?? kayaknya gue juga gak budek..."gumamku.
Tapi aku pura" tak tau tentang itu. Aku harus mampu bertahan walaupun sebenarnya sakit. Suatu ketika entah apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba" aku berkata padanya "Aku memang bukan wanita sempurna, aku juga tak punya sesuatu yang aku banggakan. Aku tidak pintar, aku tidak cantik, aku punya banyak kekurangan. Suaraku yang sering kamu dengar adalah klise bahwa sebenarnya aku bisa menyanyi. Lomba puisi yang sering aku ikuti juga merupakan bakat kebetulan. Kedudukanku di organisasi adalah sebagai pengisi kekosongan waktu saja. Takkan pernah sama jika kamu bandingkan aku dengan wanita" cantik yang ada disekitarmu. Maaf jika aku bicara seperti itu".
Dia terdiam dan perlahan diapun angkat bicara "Tapi kamu baik" jawabnya singkat.
Hanya jawaban itu yang aku dengar dan ia pun pergi.
7 bulan pun berlalu. Kisah cinta yang aku lalui masih tetap sama (seperti pertemanan biasa). Aku tiba" bertemu dengan teman lamaku yang sekolah di sekolah yang berbeda. Kagetnya dia berkata "Ve kamu kenal yang namanya Satria ga?". "Setauku kalo seangkatan ma kita, yang namanya Satria cuma 1, dia temen sekelasku" jawabku. Lalu aku bertanya lanjut "Emang kenapa?".
"Oh enggakj apa", dia pacarnya temenku" jawabnya. "Whaaattt???? skenario apalagi ini?" gumamku.
"Emang ceweknya siapa? kok aku gak tau ya kalo dia udah punya cewek? padahal aku lumayan deket sama dia".. Aku pura" gak tau.
Lalu temenku bercerita semuanya, sampai nomor telfon si cewek itupun aku dapatkan.
Setelah usut kena usut ternyata memang benar bahwa sebulan terakhir ini dia udah pacaran sama Satria.
Suatu hari aku bertemu dengan cewek itu, tanpa sepengetahuan Satria, dan dia kaget saat dia tau kalau aku mengenal selingkuhannya itu. Dari pertemua itu, terbongkarlah semuanya, dan aku harus mengalah untuk mereka.
Saat itu kenaikan kelas. Aku dipindahkan ke kelas unggulan, jadi aku sudah tidak sekelas lagi dengan satria. Hubungan kami memburuk, karena setelah kejadian kami putus, aku sama sekali tidak pernah bicara dengannya.
Menjelang acara perpisahan kakak kelas, ada technical meeting yang melibatkan panitia acara dan pengisi acara. Aku yang pada saat itu menjadi panitia acara, ditunjuk untuk menjadi MC. Sedangkan satria mengisi acara tersebut dengan bandnya. Dengan begitu, mau gak mau aku harus bicara dan berusaha profesional, meski sebenarnya sangat sakit.
Berawal dari acara tersebut, aku berusaha membina hubungan baik dengannya. Seburuk apapun dia, dia adalah mantan kekasihku yang pernah aku cintai.
Sebulan kemudian, dia curhat sama aku kalau dia putus dengan ceweknya.
Tapi itu tidak membuatku mencintainya lagi.
Ending dehhh...!!!
*_*

Hanya Sebuah Cerita

Berawal dari sebuah coba" sih sebenarnya. Aku mencoba menyukai seorang anak band yang saat itu tengah duduk di kelas yang sama denganku. Sebut saja dia Satria. Dia adalah cowok paling cakep diantara cowok" lain di kelasku. woww....keren kan..!!... Tapi sayangnya dibalik enerjiknya ketika menggebuk drum dan keceriaannya, dia adalah sosok yang memiliki fisik yang lemah. Dia sering sakit dan tidak masuk sekolah. Suatu hari aku yang saat itu menjabat sebagai ketua kelas menanyakan kenapa dia tidak masuk sekolah. Alasannya selalu sama, kalo gak abiz ngband pasti sakit. hadeeeehhhh...!!!
Ketika itu, rasa yang ada dihatiku semakin kuat pada satria. Tiga bulan aku sekelas dengannya membuatku tak bisa memungkiri tentang rasa cinta ini. Untuk pertama kalinya aku mencintai seorang cowok, mungkin ini adalah awal dari cerita cintaku.
Waktu itu (aku lupa tanggal berapa), aku mengirimkan sebuah surat padanya lewat temen sebangkuku. oohh My God...I don't know what I did..!! Terlihat konyol dan sangat bodoh. tapi ya sudahlah..
Keesokan harinya aku lihat dia datang ke sekolah dg senyuman manisnya. Lalu dia menyapaku "Hay Ve.."
Hatiku berdegup dan berkata dalam hati "Astagaaaa...gila aja gue abiz nembak dia, ehh pagi" udah disenyumin, pake disapa lagi... Ni cowok sarap apa autis???"
Seharian dikelas aku tak berkata apapun padanya. Tak seperti biasanya. Sepulang sekolah tiba" dia dibelakangku dan bertanya "Tumben seharian ini kamu gak ngomel" bu ketua kelas?". Oh God dia mengagetkanku. Aku hanya tersenyum simpul. Dia pun bertanya lagi "Apa ini karna surat kemarin?". Aku hanya diam, karena aku sudah tak tau harus meletakkan mukaku dimana (maluuuu bangeeettt...!!).
Kami berjalan bersama dan tak berbincang lagi sampai di tempat parkir. Disana ia memulai pembicaraan "Hey..tunggu jangan pulang dulu" katanya. "Kenapa?" jawabku singkat.
"Kamu butuh jawabanku gak?" katanya. "oh God... Gue musti jawab apa?? Munafik banget kalo gue ga butuh jawabannya.." gumamku. Dengan malu aku menganggukan kepalaku.
Tanpa ragu dia tersenyum dan bilang "hari ini hari jadian kita.."
"Huwaaaaaaa....ini mimpi apa beneran sih? ni cowok bego apa tulalit udah nerima gue? hahahaha" kataku dalam hati. "Tapi kalo dia ga nerima gue, gue juga yg nangis?! hoho berati anggep aja gue lagi hoky kali ini" gumamku.
"Hey kok kamu diem?" dia berkata sambil menyadarkanku dari lamunan. "Kamu gak apa" kan??" lanjutnya.
"Oh eehhmmm...Aku gak apa" kok.." kataku menyangkal.
"Terima kasih ya kamu udah nerima aku jadi cewekmu..aku pulang dulu, udah di jemput tuh,,sampai jumpa besok" kataku sambil gugup.
"iya hati" ya..?" jawabnya.
Selama diperjalanan aku berpikir tak percaya dengan kejadian baru saja. Apa ini mimpi? Apa aku sedang mengkhayal?... Tapi aku senang...
Sulit dipercaya cowok kayak dia suka sama aku. Udah cakep, pinter, anak band pula. Tapi tetep aja sepinter"nya dia, malesnya gak ketulungan,,hahaha..

Minggu, 24 April 2011

first word..

don't worried to love someone, if u think its choise...

semoga ini dapat berguna untuk shared kehidupan cinta kita semua...
if u want to shared about ur love story,,,please write it here...NOWWW..!!!!
happy writting Indonesia....^^