Pertandingan antar sekolahpun dimulai. Aku yang pada saat itu mewakili empat lomba sekaligus pun berusaha professional. Untuk lomba puisi aku mendapatkan juara tiga (lumayan lah), untuk lomba pidato aku juga mendapat juara tiga (so flat lah), lomba siswa berprestasi yang saat itu aku menunjukkan bakat menyanyiku aku berhasil mendapatkan runner up. Sedangkan lomba bulutangkis, aku gugur di perempat final.
Ucapan selamat datang dari berbagai pihak. Terima kasih atas dukungan teman-teman semua. Ini adalah awal yang bagus untuk berkarya. Ditengah bahagiaku, aku ingat dengan Satria. Aku belum mendengar kabarnya sedikitpun, “Tu anak ngumpet dimana ya?!”.
Keesokan harinya pak guru mengumumkan siapa saja yang berhasil menang di lomba antar sekolah dan menganjurkan para pemenang untuk tampil kedepan (saat itu upacara bendera di lapangan). Aku yang pada saat itu maju kedepan sebanyak tiga kali, mendapat sorak paling heboh dari teman-teman (mungkin dihati mereka “buset dah..ni anak eksis banget yaa!).
Seusai upacara, terdengar suara yang memberiku selamat.
“Hey Bu… selamat yaa..?!” Satria menyapaku.
“Hey pak… kemana aja dari kemaren gak keliatan?”, aku penasaran.
“ngumpet dibelakangmu.. makanya jadi orang jangan terlalu gendut biar bisa ngeliat orang”. Jawabnya.
Aku merasa ambigu (krik krik) “Emangnya gue gendut? Segendut apa sih gue ampe Si Satria sinting itu ngejekin gue mulu? Huhhh menyebalkan”, gumamku dalam hati.
“Eh Ve,, aku denger ada yang suka sama kamu tuh..!!”, katanya kemudian.
“hah?? Siapa?”, tanyaku penasaran.
“Ada… kakak kelas B, dia temennya temenku, katanya dia suka sama kamu.. ayo buka hatimu”, jelasnya.
“tau ah silau…hahaha..”, aku tak peduli dan bergegas masuk kelas.
Teeetttt teeetttt teeeetttt. Bel berbunyi tanda istirahat. Teman-teman sibuk mengemas buku pelajaran dan melanjutkan perbincangan dengan teman yang lain (taulah kelas unggulan, anaknya kebanyakan cupu dan males ke kantin). Ketika situasi membosankan seperti itu, yang aku lakukan adalah membuka catatan lagu yang aku tulis dalam buku khusus dan menyanyi sesuka hatiku. Dengan begitu perhatian tertuju padaku dan setidaknya mampu menghentikan obrolan mereka tentang hal yang seharusnya menjadi urusan presiden dan jajarannya. Sebenarnya kalau aku sudah mulai mendendangkan sebuah lagu, mereka bisa ikut menyanyi, dan melupakan sejenak pembahasan sok dewasa mereka. Aku suka itu.
“Ve, ada yang manggil..”, kata naming teman sekelasku. “wah.. sekarang bergaulnya udah ama kakak kelas uii..” tambahnya.
Akupun keluar kelas dan sempat terkejut, karena ternyata yang datang adalah Adi dan Jefry (teman sekelas adi sekaligus cowok cantik yang pandai menari).
“Ada apa kak?”, tanyaku.
“Gak apa-apa, ada yang pengen ketemu sama kamu Ve”, jefry menjawab.
“oh ada apa?”, aku mengulangi pertanyaanku.
Mereka berbisik lirih sampai aku tak mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan.
“Hey.. Saya sedang bertanya kak..!!!”, aku berusaha menghentikan perbincangan lirih mereka.
Tiba-tiba Adi pun angkat suara, “Aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacarku?”.
(Gokill… ini cowok sinting kayaknya, gak ada basa basinya maen DORRR aja, ampe shock gue) gumamku dalam hati.
Teeetttt teeeeettt…. Bel masuk berbunyi dan menyisakan rasa penasaran dalam hati kakak kelasku itu tentang jawabanku.