Rabu, 27 April 2011

Mencoba Bangkit


Setelah kenaikan kelas itu, aku memulai hariku yang baru. Sikapku pada Satria terkesan biasa dan bahkan jarang terlihat saling menyapa. Bagiku, kebohongan yang ia buat adalah satu pelajaran yang sangat berharga dan kuharap ini tak akan terulang untuk yang kesekian kali.
Suatu ketika aku berjalan menuju kantor kepala sekolah. Tiba” terdengar mengagetkanku, “Waahhh.. bu ketua makin sibuk saja..!!”. Oh tidak.. itu suara Satria. Aku berusaha bersikap biasa dan hanya tersenyum simpul.
Terkadang aku berpikir, kenapa aku harus canggung dihadapan Satria sedangkan ia tak sedikitpun canggung terhadapku. Apa aku terlalu berlebihan menyikapi masalahku dengannya?, apa aku terlalu egois, karena ingin memilikinya seutuhnya?, atau apa karena aku terlalu dekat dan tak terbiasa jauh darinya?. Ada yang hilang dalam diriku, ada yang kurang dalam hariku. Dia adalah teman yang selalu bertingkah aneh saat aku tegang menghadapi semua tugas. Dia adalah penghibur saat wajahku mulai geram ketika aku harus menghadapi teman-teman yang Bengal. Tapi sekarang tak ada orang sepertinya di kelasku yang baru.
Kelasku yang baru penuh dengan orang-orang yang sok jenius. Mereka menganggap buku pelajaran adalah sahabatnya. Bahkan topik perbincangan mereka hanya seputar pelajaran. “Oh my God, sepertinya gue kesasar di kelas ini” gumamku. Nilai raporku memang bagus, tapi aku tidak pintar seperti mereka. Sekelas dengan orang-orang seperti mereka seperti sekelas dengan para aliens yang bahasanya sangat tinggi dan sulit untuk dimengerti. Tapi aku suka.
Mereka mengajarkanku bagaimana sebuah tujuan dicapai dengan keseriusan. Bergaul dengan mereka, aku menjadi pribadi yang baru. Selain aku semakin rajin belajar, bakat-bakatku juga nampak. Karena kelasku menjadi sorotan oleh para guru.
Aku menjadi sedikit terkenal karena aku berhasil mewakili sekolah untuk lomba puisi, lomba pidato, lomba siswa mewakili sekolah untuk lomba puisi, lomba pidato, lomba siswa prestasi, dan lomba yang lain. Selain itu, aku juga menjadi kandidat Ketua OSIS. Ada hikmah yang tersimpan dari cobaanku kemarin. Tuhan itu Maha Adil guys.
Dari semua yang telah aku dapat sekarang, aku berani memastikan bahwa aku baik-baik saja. Aku sudah berani menyapa Satria. Walaupun itu masih terlihat sangat kaku. Tapi untuk suatu awal yang baik, semua ini patut diacungi jempol. Karena Hidup yang lebih baik, dapat diwujudkan dengan belajar dari sebuah hal yang buruk (masa lalu).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar