Selasa, 03 Mei 2011

Aku Jatuh Cinta

Minggu ini, Aku dan teman-teman menghadiri jalan sehat dalam rangka ulang tahun pemerintah kecamatan dimana sekolahku berada. Acara sangat ramai karena malibatkan semua instansi yang ada di kecamatan tersebut. Dari instansi pemerintahan, SMP, SMA, maupun umum ikut bergabung dalam satu tempat dan berjalan dalam satu rute. Aku, Fery, dan Noni berangkat bersama dan berjalan bersama dalam acara jalan sehat tersebut.
“Hey bareng dong..!!”, teriak seseorang di balik rerumpunan orang.
“Hey kamu kan…??”, belum sempat aku meneruskan kalimat responku.
“Loh ky.. kamu sendirian?”, Noni memotong responku.
Ternyata cowok itu adalah Ukky. Teman sekelas Fery sekaligus anggota tim volley sekolah yang baru aku kenal kemarin, saat dia menjenguk Fery yang sedang sakit.
“Kamu kemarin tanya kan, namanya siapa?” cetus Fery padaku.
“Hahh? Kapan aku tanya? Kan aku cuma bilang, kok aku gak pernah kenal dia..”, alibiku karena malu.
“Halah sama aja Ve, artinya kamu pengen kenalan sama dia,, yaa kan?”, cetus Noni yang membela sahabatnya itu.
“Hey.. aku Ukky”, katanya sambil mengulurkan tangan padaku, spontan menghentikan perdebatan antara aku, Fery, dan Noni.
“Oh iya aku udah tau.. Aku Ve..”, aku pun menerima uluran tangannya.
Perbincanganpun usai, dan kami mulai berjalan. Di tengah perjalanan, aku berjalan berdampingan dengan Ukky. Fery dan Noni sepertinya sengaja berjalan dibelakang kami, seolah-olah ingin menjodohkan kami. Tapi aku cuek dengan tingkah mereka yang selalu menyindirku dengan Ukky. Kami saling berbincang dan membicarakan banyak hal, sehingga perjalanan kami tidak terasa melelahkan.
Ternyata Ukky adalah cucu dari tetanggaku (apatis sekali sampe gue gak nyadar, cucu tetangga udah gede,, hihi). Dia anak orang paling kaya di desanya (desa sebelah desaku). Tapi yang kaya orang tuanya, sedangkan dia hanya menerima uang dari orang tuanya yang jumlahnya sangat terbatas (sama aja kayak gue). Dia sosok yang low profile dan gak neko-neko. Gaya bicaranya sangat sederhana dan tidak muluk-muluk (kan biasanya ada cowok kaya yang sok gitu).
Sejak pertemuan itu, aku merasa tertarik dengan sosoknya. Bukan karena dia orang kaya, tapi karena kesederhanaannya. Mana ada yang menyangka, cowok sederhana seperti dia, ternyata rumahnya sebagus itu. Mana ada yang menyangka kalau cowok yang gak suka banyak ngomong itu, akan menjadi ahli waris nantinya. Aku sangat salut dengan itu. Jarang sekali aku lihat cowok di sekolah yang tidak menunjukkan kekayaannya seperti dia.
Sedikit demi sedikit akupun mulai menyukainya, dan perasaanku tercium oleh Fery dan Noni. Mereka pun selalu mengejekku.
“Kenapa kalian selalu menyebar gosip tentang aku dan Ukky?”, tanyaku kesal.
“Kan kamu emang suka ma Ukky?!”, jawab Noni.
“Kamu sadar gak sih? Ukky itu satu tim sama Adi, dan Adi itu mantanku. Bisa jaga perasaan orang dikit knapa sih?”, kali ini suaraku sudah agak meninggi.
“Ve,, mantan ya mantan. Masalah kamu sekarang suka sama siapa juga itu hak kamu. Adi gak punya hak buat marah. Kan kalian udah putus. Lagian bukan salahmu juga kalo kamu sekarang suka sama cowok lain”, cetus Fery seolah-olah membela Noni.
“tapii…”, aku bingung mau jawab apa.
“Gak ada tapi-tapi. Kemaren Ukky bilang dia suka sama kamu. Adi juga tanya tentang hubunganmu sama Ukky. Aku jawan kalo kalian deket. Cukup jelas kan?”, cetus Fery.
“Sekarang tinggal kamu milih. Ukky cowok yang kamu sekarang, atau Adi mantanmu yang udah mutusin kamu tanpa sebab.”, Noni menambahkan.
Aku memang menyukai Ukky. Tapi aku juga harus menjaga perasaan Adi. Karena saat dia meninggalkan aku, dia meninggalkanku karena kesalahanku yang terlalu sibuk. Bagaimana perasaan Adi aku tak pernah tahu. Aku hanya tahu bahwa Adi sangat simpati dan selalu berusaha menjadi teman yang baik untukku.
Akhirnya aku menerima Ukky atas beberapa pertimbangan, dan lagi-lagi semua ini mengundang gosip dikalangan siswa lain di sekolah. Seolah-olah disana aku adalah seorang selebritis yang setiap dekat cowok, pasti semua orang heboh dan sibuk membicarakanku. Tapi inilah resiko. Tak ada kata gengsi, tak ada malu. Cuek adalah sikap terbaik yang seharusnya ku ambil untuk saat ini.

Dan Lima Bulan Menjadi Saksinya

Dari sebuah kesalahan yang aku buat sendiri, akupun mulai mawas diri. Aku mulai merubah mind setku dari orang tak peduli dengan perasaan orang lain menjadi sedikit perhatian paa orang lain. Dari orang yang menganggap bahwa aku bisa melakukan semua hal tanpa bantuan orang lain, menjadi orang yang ingin meminta bantuan kepada orang lain. Semua karena dia.
Lima bulan itu bukan waktu yang singkat buatku memperbaiki kesalahan meski tak sepenuhnya. Aku mulai belajar untuk meminta tolong kepada pengurus OSIS yang lain untuk melakukan tugas-tugas dari guru. Sehingga kami bekerja bersama dan selesai bersama. Ternyata berbagi itu sangat indah.
Aku baru menyadari kenapa Adi meninggalkanku tanpa alasan. Ternyata dengan tahu semua ini sendiri, dan aku bisa belajar bagaimana menyadari bahwa setiap orang ingin dihargai keberadaannya. Aku sangat menyesal pernah melakukan itu.
“Hey Ve..”, terdengar suara yang tidak asing menyapaku.
“Hey kak.. tumben nongol?”, aku menjawab dengan kaget. “Selama ini kemana aja kak?”, aku pun mencoba mencairkan suasana.
“Aku sibuk sama pertandingan di timku”, jelasnya.
“Tumben kamu gak telat latihannya?”, dia pun melanjutkan pertanyaannya.
“Oh iya.. Secara kan aku sekarang gak sesibuk dulu kak. Aku pengen pensiun uiiyy.. capek jadi presiden.. hahaha”, jawabku dengan bercanda.
“Kamu lucu deh”, jawabnya singkat.
“hah?”, aku heran dan menggaruk-garuk kepalaku. (ini cowok jayus banget sih? Lucu darimana coba? Krik”).
Hubungan kami membaik pasca putus kemarin. Dia sudah mulai bercanda seperti dulu. Tak ada lagi kata “Jaga jarak”, tak ada lagi kata “diem-dieman”. Semua seperti awal kami mengenal satu sama lain. Dia mengejekku dengan ciri khas “jayus”nya, dan aku pun terpaksa tertawa karena itu. I got a new friend from this story, after I stand on many processes. Semua menjadi berwarna, dan aku baru merasakan bahwa Tuhan punya rahasia dibalik rahasia. How this problem hurted me more, how he leave me without a reason, how.. how.. and how… semua adalah masa lalu. Saat ini aku mendapat hikmah dari semua itu.
I just say to God. Thank you for that love for me. Thank you for the home work. Thank you for the problems. And thank you for the experiences.


Break From Love

Benar apa kata pepatah yang berkata “Experience is The Best Teacher”. Dua pengalaman hebatku yang mencoba mencintai seseorang dan menjadi orang yang dicintai oleh orang lain mengajarkanku banyak hal. Menyadarkanku untuk mampu mawas diri, untuk tidak egois, dan mengajarkanku untuk lebih dewasa dalam menyikapi alur hidup yang semakin lama semakin kejam.
Rasa takut mengecewakan, menghantuiku setiap waktu. Kebaikan kedua orang mantanku (Satria dan Adi) adalah contoh bahwa cinta dapat diwujudkan dengan berbagai cara, tanpa harus nyatakan cinta, tanpa harus pacaran, atau tanpa harus ikatan khusus. Hari-hariku sangat berwarna. Ada saat aku harus berbincang dengan Satria yang konyol dengan semua kelucuannya yang kadang membuat aku tertawa. Terkadang aku juga harus menghabiskan waktu dengan Adi yang hanya tersenyum simpul saat dia bicara.
Aku masih sama seperti kemarin. Sibuk dengan urusan organisasi yang tidak ada habisnya. Dan Satria selalu menyindirku.
“Kapan kamu akan berhenti menjadi presiden gadungan?”, tanyanya dengan melipat tangan dan menyandarkan tubuhnya didinding dekat kelasku saat aku akan memasuki kelas.
“Hey.. pak.. tumben keliatan?”, sapaku seakan tak merespon omongannya.
“sepertinya penglihatanmu sudah tidak normal, sampai kamu tak melihatku disini dari tadi”, sindirnya.
“Sory sat, kamu bukan Duta atau Anton Widyastanto yang mampu mengalihkan perhatianku.. hahaha”, akupun mencoba bercanda dengannya.
“Aku pengen ngomong”, tampang seriusnya tak bisa bohong kalau dia memang sedang ingin membicarakan suatu hal denganku.
“Ngomong aja.. “, responku simpel.
Dia menarikku menuju pojok kelas yang ada tempat duduknya. Setelah kami duduk, dia pun memandangku.
“Aku dengar, kakak kelas itu udah mutusin kamu ya?”, tanyanya.
“darimana kamu tau?”, aku bertanya balik.
“Kamu gak perlu tau. Kamu cukup menjawab iya atau tidak”, tegasnya.
“GAK.. maksudnya aku gak tau”, jawabku singkat.
“Loh kok?”, responnya sambil memasang muka tak mengerti dengan penjelasanku.
“Aku emang udah gak ada apa-apa dengan si kakak kelas itu. Tapi kita gak ada kata putus”, jelasku selanjutnya.
“Dia selingkuh?”, Tanyanya yang menurutku agak ngawur.
“Kamu kira dia kayak kamu yang tergoda ama cewek lain dalam kurun waktu singkat bahkan dalam hitungan detik.. hahaha”, akupun balik menyindir Satria.
“Ya sudahlah terserah kamu aja”, respon Satria yang malu dengan sindiranku. Dia pun berdiri dan menepuk pundakku sambil berkata “Yang sabar ya?”
Dia pergi sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. “Terima kasih Sat, tapi semua itu tidak bisa mengubah semua yang telah terjadi”, gumamku dalam hati.
Hari-hariku berjalan normal seperti adanya. Selalu disibukkan dengan hal-hal yang monoton. Tak ada yang special, tapi aku sangat menikmatinya. Saat sedang sendiri, aku hanya mampu menangis karna pengelaman yang sangat berharga itu. Sambil menulis puisi-puisi yang sedikit ambigu “Gak Njalur” dengan ditemani lagu cinta yang sedang booming saat itu “Hampa by Ari Lasso”
Ku pejamkan mata ini, mencoba tuk melupakan
Segala kenangan indah tentang dirimu, tentang mimpiku
Namun kini kau menghilang bagaikan ditelan bumi,
Tak pernahkah kau sadari arti cintamu untukku.
Entah dimana dirimu berada,
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah disana kamu merindukan aku
Seperti diriku yang slalu merindukanmu
Selalu merindukanmu.
Seperti itu perasaan yang pada saat itu aku rasakan. Bagaimana mampu mencintai orang lain dengan caraku, dan bagaimana aku bisa membahagiakan orang lain tanpa membuatnya terpaksa bahagia. Butuh waktu yang lama. Butuh proses yang berwarna. Aku perlu banyak belajar untuk dewasa dan mampu memaknai arti dari setiap peristiwa yang terjadi.

Maaf Aku Tak Bisa

Berawal dari sebuah keterpaksaan, akhirnya akupun menyesal karna pernah berkata bahwa aku tak mungkin jatuh cinta. Munafik rasanya ketika aku berkata bahwa aku menerimanya karna sebuah ancaman. Saat ini aku mulai menyadari rasa yang tak biasa. Rasa nyaman dan tak ingin jauh. Ingin selalu berbincang dan berkeluh kesah dengan Adi.
Tapi aku tak sadar, beberapa hari ini ada yang aneh dengan sikapnya. Setiap pulang sekolah, dia tak lagi mengajakku pulang bersama. Bahkan untuk bertemupun, aku jarang memiliki kesempatan. Kenapa ini?
“Fer, kamu liat Adi?”, tanyaku pada Fery saat latihan volley.
“Wah.. tadi sih ada, tapi gak tau kemana sekarang. Emangnya kamu darimana aja kok baru dating?”, Tanyanya balik.
“Aku baru aja ada rapat buat ngomongin pertandingan persahabatan antara sekolah kita dengan sekolah lain”, jelasku.
Fery pun berlalu. Dia masih sibuk dengan latihannya yang belum selesai. Setelah pulang latihan, kami menyambung pembicaraan yang sempat tertunda.
“Kamu ada masalah?’, Tanya Fery padaku.
“Hmm… aku gak tau..!!”, jawabku bingung.
“Aku seriuss Ve..!”, nada bicara Fery mulai meninggi.
“Beberapa hari ini aku sulit ketemu Adi, sepertinya dia menjauh dari aku. I don’t know why..?!”, jelasku.
“Kamu terlalu sibuk”, jelasnya singkat.
Dari sana aku terdiam tak bicara, dan aku berpikir, mungkin kata-kata Fery ada benarnya. Aku terlalu sibuk dengan kesibukanku. Aku terlalu egois, yang selalu meletakkan kepentinganku diatas segala-galanya. Aku tak pernah peka dengan keinginan orang lain. Aku… aku….
Aku sangat bersalah karna telah menyia-nyiakan orang yang sayang padaku, sampai untuk sekedar duduk bersama dan berbincangpun kadang tak sempat. Selama sebulan ini, dia hanya sebagai obyek motivatorku. Mendongkrak popularitas di mata teman-teman, memperoleh figur seorang kakak yang selalu ada saat aku butuh dukungan, menjadi penampung keluh kesah saat aku ingin bercerita. Bahkan untuk memberikan timbal balik pun aku tak bisa. Betapa egoisnya aku.
Tak ada kata berpisah antara aku dan Adi. Hubungan kami berakhir begitu saja. Tak ada alasan yang jelas kenapa dia mejauhiku dengan spontannya. Sampai saat inipun aku masih bertanya-tanya tentang itu. Aku hanya mampu menulis surat pada Adi yang aku titipkan pada Fery.
Dear Kak Adi,
Surat ini saya tulis untuk mengklarifikasi masalah diantara kita. Saya minta maaf jika selama ini saya salah pada kakak. Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan kakak. Maaf jika saya terlalu egois. Maaf jika saya menganggap kepentingan dan kesibukan saya adalah segala-galanya. Maaf jika saya tidak bisa menjadi pendengar yang baik seperti kakak yang selalu mendengar cerita saya. Maaf jika saya bukan motivator yang baik untuk kakak. Tapi saya ingin berterima kasih atas pemberian kakak pada saya.
Terima kasih atas support kakak. Terima kasih atas pinjaman bahu saat saya menangis. Terima kasih atas teriakan yang mampu menumbuhkan semangat untuk saya. Terima kasih telah menjadi tempat curhat untuk saya, terima kasih atas cinta kasih yang tulus untuk saya.
Mungkin terlambat jika saya mengatakan “I Love You” sekarang. Tapi apapun itu, saya bangga mengenal kakak.

Yours,
Ve

Setelah peristiwa itu, semua terasa canggung. Meski kami berada dalam satu tim, tapi kami jarang terlihat ngobrol bersama. Walaupun sebenarnya ingin rasanya melewati waktu seperti dulu. Tapi semua terlambat. Lebih baik aku sendiri, menjalani hariku yang penuh dengan kesibukanku, sampai ada seseorang yang mampu menerimaku dengan semua kekurangan dan khilafku.

Cinta Ada Karena Biasa

Tak ada yang istimewa dalam hubunganku dengan Adi. Sama seperti sebelumnya, saat aku bersama Satria. Hanya bertemu saat di sekolah dan saat latihan volley. Tak ada kencan, tak ada kejutan, dan semua terasa biasa saja. Hanya saja, kabar berita tentang aku dan dia lebih gencar dibandingkan dengan saat aku dengan Satria. Ditambah saat itu, aku terpilih menjadi salah satu kandidat terkuat calon ketua OSIS. Jadi sepertinya wajar jika banyak siswa lain yang mengumbar berita tentang kami sebagai topic bahasan yang sangat tidak penting.
Aku mencoba bersikap professional saat berdiri di podium untuk berkampanye. Tapi aku merasa sangat gugup, saat aku mendengar teriakan dari kelas Adi. Mereka buka meneriakkan namaku, tapi malah sebaliknya, mereka meneriakkan nama Adi.
“Astagaaa… Mereka ini apa-apaan coba?”, aku bicara dalam hati.
Setelah aku turun dari podium, tepuk tangan menyambutku, dan terdengar suara memecahkan kegugupanku “Waaahh… keren bu. Sepertinya kamu siap untuk jadi presiden?”
Setelah aku menoleh, ternyata itu suara Satria.
“Haha… kamu bisa aja pak?”, jawabku.
“Selamat ya?, aku dengar calon ketua OSIS baru jadian sama pemain volley ya?”, tanyanya ngledek.
“haha.. kamu denger juga ya?”, jawabku sambil tersenyum simpul.
“iyalah aku denger, aku diterima sekolah disini salah satunya karena aku tidak tuli”, jawabnya.
Kamipun tertawa terbahak dan sejenak berbincang untuk menunggu hasil voting.
Hasil voting yang aku peroleh cukup bagus, dan menduduki posisi kedua hingga akhir acara. Pembina OSIS memutuskan bahwa aku menjadi ketua I, dibawah kedudukan ketua umum. Saat itulah tiba-tiba ucapan selamat datang dari berbagai pihak, tak terkecuali dari Adi.
“waahh,,, keren Ve.. kamu berhasil membuat aku bangga”, kata Adi.
“Terima kasih atas dukungannya ya di?”, kataku.
“Mana traktirannya?”, dia mulai bercanda.
“Tunggu aja di warung pak kemi.. hahaha”, jawabku
Maklum, warung pak kemi adalah warung paling rame di sekolah kami.
Sepulang sekolahpun kami pulang bersama. Sejak saat itu, aku mulai merasakan ada yang aneh dengan perasaanku. Apakah mungkin aku mencintai Adi?. Kebersamaan yang membuatku semakin menyukai sosoknya. Mungkin dia pun juga sama. Tapi kekangan dari keluargaku (kakek dan nenek) yang tidak membiarkan cucu gadisnya keluar rumah dengan alasan yang jelas, yang membuat hubunganku dengan Adi main belakang “Backstreet”.

Pengorbanan untuk Sahabat

Sosok kakak kelas seperti Adi, adalah pribadi yang biasa saja. Dia manis, pendiam, dan baik. Kebaikannya membuatku merasa nyaman saat aku didekatnya. Setelah dia menyatakan cinta padaku, kamipun jarang bertemu, bahkan sangat jarang. Sesekali kami bertemu saat dia latihan bersama tim volley nya dan aku sedang sibuk di organisasi OSIS.
Suatu hari, entah apa salah denganku. Tiba-tiba aku menemui Fery di lapangan volley dekat rumahku.
“Hey Fer, aku pengen bisa maen volley..” cetusku.
“What? Kamu mau maen volley?” tanyanya tak percaya.
“iya.. ada yang salah?”, jawabku.
“Oh,, gak apa-apa kok Ve. Aku cuma kaget aja,, nih tangkap bolanya”, dia melemparkan bola volley padaku.
Setelah lelah bermain volley, aku dan Fery pun duduk bersebelahan. Beberapa saat kemudian, perbincangan diantara kami pun dimulai.
“Apa yang membuatmu belajar maen Volly?, apa ini karna dia?”, pertanyaan pertamanya terlontar.
“Hah??.. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan apapun atau siapapun. Aku ingin menambah bakatku. Bukan hanya aktif di organisasi, tapi aku ingin aktif juga di olahraga. Kamu sama Noni bisa maen Volly, masak aku gak bisa?”, aku pun menjelaskan panjang lebar.
“Aku dengar kemarin kamu abis ditembak ya?” Tanya Fery.
“Iya..”, jawabku.
“Lalu?”, Fery bertanya lagi.
“Ya gitu deh..!!”, jawabku.
“Kamu terima?”, Fery semakin penasaran.
“Aku gak tau”, sambil memasang muka bingung akupun menjelaskan. “I don’t have feeling yet”, jelasku.
(Fery yang kurang mengerti bahasa inggrispun terlihat sedikit bingung).
“Aku baru kenal sama Adi itu, jadi wajar kalo aku bingung fer. Kalo kamu yang tiba-tiba nembak aku, saat itu juga aku udah punya jawaban buat kamu”, aku menjelaskan lagi.
“Lalu kalo aku yang nembak kamu, jawabanmu apa?”, dia bertanya lagi.
“Ya gak mungkin lah aku nerima kamu, kayak gak ada cowok yang lebih cakep aja, hahaha”, aku pun berusaha mencairkan suasana.
“Adi itu baik, aku sangat mengenalnya, jadi percayalah dia tak akan mengecewakanmu”, kali ini Fery menjelaskan dengan serius. Aku tak pernah melihat dia seserius ini.
Sejenak kamipun terdiam, lalu Fery menatapku tajam.
“Aku sudah lama mengenalmu, bahkan sangat lama. Sejak kamu masih suka ngompol waktu TK pun aku sudah mengenalmu. Semua keburukanmu yang suka berantem itu aku juga tau. Jujur kamu dan Noni adalah orang yang sangat ku sayangi. Jadi aku gak pengen kamu sakit”, dia terdiam dan menunduk.
“Kamu dan Adi adalah sahabatku, aku gak pengen ada yang kecewa diantara kalian”, ujarnya kemudian.
“Apa aku harus menerimanya?”, tanyaku.
Dengan tegas diapun menjawab, “Cobalah untuk mencintainya”.
“Oh My God…lagi??? Kali ini sahabat gue yang jadi jaminannya. Apa-apaan ini?”, gumamku dalam hati.
Sejak perbincanganku dengan Fery itu, aku berusaha untuk menyukai olahraga volley. Dalam proses belajar, aku merasa tidak kuat dan ingin menyerah. Tanganku bengkak dan sangat sakit, beberapa hari kemudian, tanganku terlihat membiru. (Astagaa…memang benar-benar pengorbanan).
Dua minggu setelah belajar bermain volley, ada seleksi pemain di sekolah. Bagi siapapun yang terpilih, berhak bergabung dalam tim. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku pun ikut dalam seleksi tersebut, dan akhirnya aku lolos.
Bergabungnya aku dalam tim volley adalah awal kisah cinta monyetku bersama Adi. Walaupun saat itu perasaanku tetap sama “I’m not fall in love with him”. Tapi aku suka. Aku hanya mengagumi ketampanannya yang sering kali menjadi pusat perhatian dari cewek-cewek di sekolah, kepiyawaiannya dalam bermain volley yang selalu membuat cewek-cewek klepek-klepek. Cewek mana yang merasa tak beruntung mendapatkan cowok seperti dia?. Dan aku tetap bertahan dengan hatiku yang selalu berkata,
“Sure, I’m not proud with this relation, Because exactly, I still want alone”.

Rabu, 27 April 2011

Pacar Kedua


Pertandingan antar sekolahpun dimulai. Aku yang pada saat itu mewakili empat lomba sekaligus pun berusaha professional. Untuk lomba puisi aku mendapatkan juara tiga (lumayan lah), untuk lomba pidato aku juga mendapat juara tiga (so flat lah), lomba siswa berprestasi yang saat itu aku menunjukkan bakat menyanyiku aku berhasil mendapatkan runner up. Sedangkan lomba bulutangkis, aku gugur di perempat final.
Ucapan selamat datang dari berbagai pihak. Terima kasih atas dukungan teman-teman semua. Ini adalah awal yang bagus untuk berkarya. Ditengah bahagiaku, aku ingat dengan Satria. Aku belum mendengar kabarnya sedikitpun, “Tu anak ngumpet dimana ya?!”.
Keesokan harinya pak guru mengumumkan siapa saja yang berhasil menang di lomba antar sekolah dan menganjurkan para pemenang untuk tampil kedepan (saat itu upacara bendera di lapangan). Aku yang pada saat itu maju kedepan sebanyak tiga kali, mendapat sorak paling heboh dari teman-teman (mungkin dihati mereka “buset dah..ni anak eksis banget yaa!).
Seusai upacara, terdengar suara yang memberiku selamat.
“Hey Bu… selamat yaa..?!” Satria menyapaku.
“Hey pak… kemana aja dari kemaren gak keliatan?”, aku penasaran.
“ngumpet dibelakangmu.. makanya jadi orang jangan terlalu gendut biar bisa ngeliat orang”. Jawabnya.
Aku merasa ambigu (krik krik) “Emangnya gue gendut? Segendut apa sih gue ampe Si Satria sinting itu ngejekin gue mulu? Huhhh menyebalkan”, gumamku dalam hati.
“Eh Ve,, aku denger ada yang suka sama kamu tuh..!!”, katanya kemudian.
“hah?? Siapa?”, tanyaku penasaran.
“Ada… kakak kelas B, dia temennya temenku, katanya dia suka sama kamu.. ayo buka hatimu”, jelasnya.
“tau ah silau…hahaha..”, aku tak peduli dan bergegas masuk kelas.
Teeetttt teeetttt teeeetttt. Bel berbunyi tanda istirahat. Teman-teman sibuk mengemas buku pelajaran dan melanjutkan perbincangan dengan teman yang lain (taulah kelas unggulan, anaknya kebanyakan cupu dan males ke kantin). Ketika situasi membosankan seperti itu, yang aku lakukan adalah membuka catatan lagu yang aku tulis dalam buku khusus dan menyanyi sesuka hatiku. Dengan begitu perhatian tertuju padaku dan setidaknya mampu menghentikan obrolan mereka tentang hal yang seharusnya menjadi urusan presiden dan jajarannya. Sebenarnya kalau aku sudah mulai mendendangkan sebuah lagu, mereka bisa ikut menyanyi, dan melupakan sejenak pembahasan sok dewasa mereka. Aku suka itu.
“Ve, ada yang manggil..”, kata naming teman sekelasku. “wah.. sekarang bergaulnya udah ama kakak kelas uii..” tambahnya.
Akupun keluar kelas dan sempat terkejut, karena ternyata yang datang adalah Adi dan Jefry (teman sekelas adi sekaligus cowok cantik yang pandai menari).
“Ada apa kak?”, tanyaku.
“Gak apa-apa, ada yang pengen ketemu sama kamu Ve”, jefry menjawab.
“oh ada apa?”, aku mengulangi pertanyaanku.
Mereka berbisik lirih sampai aku tak mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan.
“Hey.. Saya sedang bertanya kak..!!!”, aku berusaha menghentikan perbincangan lirih mereka.
Tiba-tiba Adi pun angkat suara, “Aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacarku?”.
(Gokill… ini cowok sinting kayaknya, gak ada basa basinya maen DORRR aja, ampe shock gue) gumamku dalam hati.
Teeetttt teeeeettt…. Bel masuk berbunyi dan menyisakan rasa penasaran dalam hati kakak kelasku itu tentang jawabanku.