Benar apa kata pepatah yang berkata “Experience is The Best Teacher”. Dua pengalaman hebatku yang mencoba mencintai seseorang dan menjadi orang yang dicintai oleh orang lain mengajarkanku banyak hal. Menyadarkanku untuk mampu mawas diri, untuk tidak egois, dan mengajarkanku untuk lebih dewasa dalam menyikapi alur hidup yang semakin lama semakin kejam.
Rasa takut mengecewakan, menghantuiku setiap waktu. Kebaikan kedua orang mantanku (Satria dan Adi) adalah contoh bahwa cinta dapat diwujudkan dengan berbagai cara, tanpa harus nyatakan cinta, tanpa harus pacaran, atau tanpa harus ikatan khusus. Hari-hariku sangat berwarna. Ada saat aku harus berbincang dengan Satria yang konyol dengan semua kelucuannya yang kadang membuat aku tertawa. Terkadang aku juga harus menghabiskan waktu dengan Adi yang hanya tersenyum simpul saat dia bicara.
Aku masih sama seperti kemarin. Sibuk dengan urusan organisasi yang tidak ada habisnya. Dan Satria selalu menyindirku.
“Kapan kamu akan berhenti menjadi presiden gadungan?”, tanyanya dengan melipat tangan dan menyandarkan tubuhnya didinding dekat kelasku saat aku akan memasuki kelas.
“Hey.. pak.. tumben keliatan?”, sapaku seakan tak merespon omongannya.
“sepertinya penglihatanmu sudah tidak normal, sampai kamu tak melihatku disini dari tadi”, sindirnya.
“Sory sat, kamu bukan Duta atau Anton Widyastanto yang mampu mengalihkan perhatianku.. hahaha”, akupun mencoba bercanda dengannya.
“Aku pengen ngomong”, tampang seriusnya tak bisa bohong kalau dia memang sedang ingin membicarakan suatu hal denganku.
“Ngomong aja.. “, responku simpel.
Dia menarikku menuju pojok kelas yang ada tempat duduknya. Setelah kami duduk, dia pun memandangku.
“Aku dengar, kakak kelas itu udah mutusin kamu ya?”, tanyanya.
“darimana kamu tau?”, aku bertanya balik.
“Kamu gak perlu tau. Kamu cukup menjawab iya atau tidak”, tegasnya.
“GAK.. maksudnya aku gak tau”, jawabku singkat.
“Loh kok?”, responnya sambil memasang muka tak mengerti dengan penjelasanku.
“Aku emang udah gak ada apa-apa dengan si kakak kelas itu. Tapi kita gak ada kata putus”, jelasku selanjutnya.
“Dia selingkuh?”, Tanyanya yang menurutku agak ngawur.
“Kamu kira dia kayak kamu yang tergoda ama cewek lain dalam kurun waktu singkat bahkan dalam hitungan detik.. hahaha”, akupun balik menyindir Satria.
“Ya sudahlah terserah kamu aja”, respon Satria yang malu dengan sindiranku. Dia pun berdiri dan menepuk pundakku sambil berkata “Yang sabar ya?”
Dia pergi sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. “Terima kasih Sat, tapi semua itu tidak bisa mengubah semua yang telah terjadi”, gumamku dalam hati.
Hari-hariku berjalan normal seperti adanya. Selalu disibukkan dengan hal-hal yang monoton. Tak ada yang special, tapi aku sangat menikmatinya. Saat sedang sendiri, aku hanya mampu menangis karna pengelaman yang sangat berharga itu. Sambil menulis puisi-puisi yang sedikit ambigu “Gak Njalur” dengan ditemani lagu cinta yang sedang booming saat itu “Hampa by Ari Lasso”
Ku pejamkan mata ini, mencoba tuk melupakan
Segala kenangan indah tentang dirimu, tentang mimpiku
Namun kini kau menghilang bagaikan ditelan bumi,
Tak pernahkah kau sadari arti cintamu untukku.
Entah dimana dirimu berada,
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah disana kamu merindukan aku
Seperti diriku yang slalu merindukanmu
Selalu merindukanmu.
Seperti itu perasaan yang pada saat itu aku rasakan. Bagaimana mampu mencintai orang lain dengan caraku, dan bagaimana aku bisa membahagiakan orang lain tanpa membuatnya terpaksa bahagia. Butuh waktu yang lama. Butuh proses yang berwarna. Aku perlu banyak belajar untuk dewasa dan mampu memaknai arti dari setiap peristiwa yang terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar