Selasa, 03 Mei 2011

Maaf Aku Tak Bisa

Berawal dari sebuah keterpaksaan, akhirnya akupun menyesal karna pernah berkata bahwa aku tak mungkin jatuh cinta. Munafik rasanya ketika aku berkata bahwa aku menerimanya karna sebuah ancaman. Saat ini aku mulai menyadari rasa yang tak biasa. Rasa nyaman dan tak ingin jauh. Ingin selalu berbincang dan berkeluh kesah dengan Adi.
Tapi aku tak sadar, beberapa hari ini ada yang aneh dengan sikapnya. Setiap pulang sekolah, dia tak lagi mengajakku pulang bersama. Bahkan untuk bertemupun, aku jarang memiliki kesempatan. Kenapa ini?
“Fer, kamu liat Adi?”, tanyaku pada Fery saat latihan volley.
“Wah.. tadi sih ada, tapi gak tau kemana sekarang. Emangnya kamu darimana aja kok baru dating?”, Tanyanya balik.
“Aku baru aja ada rapat buat ngomongin pertandingan persahabatan antara sekolah kita dengan sekolah lain”, jelasku.
Fery pun berlalu. Dia masih sibuk dengan latihannya yang belum selesai. Setelah pulang latihan, kami menyambung pembicaraan yang sempat tertunda.
“Kamu ada masalah?’, Tanya Fery padaku.
“Hmm… aku gak tau..!!”, jawabku bingung.
“Aku seriuss Ve..!”, nada bicara Fery mulai meninggi.
“Beberapa hari ini aku sulit ketemu Adi, sepertinya dia menjauh dari aku. I don’t know why..?!”, jelasku.
“Kamu terlalu sibuk”, jelasnya singkat.
Dari sana aku terdiam tak bicara, dan aku berpikir, mungkin kata-kata Fery ada benarnya. Aku terlalu sibuk dengan kesibukanku. Aku terlalu egois, yang selalu meletakkan kepentinganku diatas segala-galanya. Aku tak pernah peka dengan keinginan orang lain. Aku… aku….
Aku sangat bersalah karna telah menyia-nyiakan orang yang sayang padaku, sampai untuk sekedar duduk bersama dan berbincangpun kadang tak sempat. Selama sebulan ini, dia hanya sebagai obyek motivatorku. Mendongkrak popularitas di mata teman-teman, memperoleh figur seorang kakak yang selalu ada saat aku butuh dukungan, menjadi penampung keluh kesah saat aku ingin bercerita. Bahkan untuk memberikan timbal balik pun aku tak bisa. Betapa egoisnya aku.
Tak ada kata berpisah antara aku dan Adi. Hubungan kami berakhir begitu saja. Tak ada alasan yang jelas kenapa dia mejauhiku dengan spontannya. Sampai saat inipun aku masih bertanya-tanya tentang itu. Aku hanya mampu menulis surat pada Adi yang aku titipkan pada Fery.
Dear Kak Adi,
Surat ini saya tulis untuk mengklarifikasi masalah diantara kita. Saya minta maaf jika selama ini saya salah pada kakak. Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan kakak. Maaf jika saya terlalu egois. Maaf jika saya menganggap kepentingan dan kesibukan saya adalah segala-galanya. Maaf jika saya tidak bisa menjadi pendengar yang baik seperti kakak yang selalu mendengar cerita saya. Maaf jika saya bukan motivator yang baik untuk kakak. Tapi saya ingin berterima kasih atas pemberian kakak pada saya.
Terima kasih atas support kakak. Terima kasih atas pinjaman bahu saat saya menangis. Terima kasih atas teriakan yang mampu menumbuhkan semangat untuk saya. Terima kasih telah menjadi tempat curhat untuk saya, terima kasih atas cinta kasih yang tulus untuk saya.
Mungkin terlambat jika saya mengatakan “I Love You” sekarang. Tapi apapun itu, saya bangga mengenal kakak.

Yours,
Ve

Setelah peristiwa itu, semua terasa canggung. Meski kami berada dalam satu tim, tapi kami jarang terlihat ngobrol bersama. Walaupun sebenarnya ingin rasanya melewati waktu seperti dulu. Tapi semua terlambat. Lebih baik aku sendiri, menjalani hariku yang penuh dengan kesibukanku, sampai ada seseorang yang mampu menerimaku dengan semua kekurangan dan khilafku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar