Tak ada yang istimewa dalam hubunganku dengan Adi. Sama seperti sebelumnya, saat aku bersama Satria. Hanya bertemu saat di sekolah dan saat latihan volley. Tak ada kencan, tak ada kejutan, dan semua terasa biasa saja. Hanya saja, kabar berita tentang aku dan dia lebih gencar dibandingkan dengan saat aku dengan Satria. Ditambah saat itu, aku terpilih menjadi salah satu kandidat terkuat calon ketua OSIS. Jadi sepertinya wajar jika banyak siswa lain yang mengumbar berita tentang kami sebagai topic bahasan yang sangat tidak penting.
Aku mencoba bersikap professional saat berdiri di podium untuk berkampanye. Tapi aku merasa sangat gugup, saat aku mendengar teriakan dari kelas Adi. Mereka buka meneriakkan namaku, tapi malah sebaliknya, mereka meneriakkan nama Adi.
“Astagaaa… Mereka ini apa-apaan coba?”, aku bicara dalam hati.
Setelah aku turun dari podium, tepuk tangan menyambutku, dan terdengar suara memecahkan kegugupanku “Waaahh… keren bu. Sepertinya kamu siap untuk jadi presiden?”
Setelah aku menoleh, ternyata itu suara Satria.
“Haha… kamu bisa aja pak?”, jawabku.
“Selamat ya?, aku dengar calon ketua OSIS baru jadian sama pemain volley ya?”, tanyanya ngledek.
“haha.. kamu denger juga ya?”, jawabku sambil tersenyum simpul.
“iyalah aku denger, aku diterima sekolah disini salah satunya karena aku tidak tuli”, jawabnya.
Kamipun tertawa terbahak dan sejenak berbincang untuk menunggu hasil voting.
Hasil voting yang aku peroleh cukup bagus, dan menduduki posisi kedua hingga akhir acara. Pembina OSIS memutuskan bahwa aku menjadi ketua I, dibawah kedudukan ketua umum. Saat itulah tiba-tiba ucapan selamat datang dari berbagai pihak, tak terkecuali dari Adi.
“waahh,,, keren Ve.. kamu berhasil membuat aku bangga”, kata Adi.
“Terima kasih atas dukungannya ya di?”, kataku.
“Mana traktirannya?”, dia mulai bercanda.
“Tunggu aja di warung pak kemi.. hahaha”, jawabku
Maklum, warung pak kemi adalah warung paling rame di sekolah kami.
Sepulang sekolahpun kami pulang bersama. Sejak saat itu, aku mulai merasakan ada yang aneh dengan perasaanku. Apakah mungkin aku mencintai Adi?. Kebersamaan yang membuatku semakin menyukai sosoknya. Mungkin dia pun juga sama. Tapi kekangan dari keluargaku (kakek dan nenek) yang tidak membiarkan cucu gadisnya keluar rumah dengan alasan yang jelas, yang membuat hubunganku dengan Adi main belakang “Backstreet”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar