Sosok kakak kelas seperti Adi, adalah pribadi yang biasa saja. Dia manis, pendiam, dan baik. Kebaikannya membuatku merasa nyaman saat aku didekatnya. Setelah dia menyatakan cinta padaku, kamipun jarang bertemu, bahkan sangat jarang. Sesekali kami bertemu saat dia latihan bersama tim volley nya dan aku sedang sibuk di organisasi OSIS.
Suatu hari, entah apa salah denganku. Tiba-tiba aku menemui Fery di lapangan volley dekat rumahku.
“Hey Fer, aku pengen bisa maen volley..” cetusku.
“What? Kamu mau maen volley?” tanyanya tak percaya.
“iya.. ada yang salah?”, jawabku.
“Oh,, gak apa-apa kok Ve. Aku cuma kaget aja,, nih tangkap bolanya”, dia melemparkan bola volley padaku.
Setelah lelah bermain volley, aku dan Fery pun duduk bersebelahan. Beberapa saat kemudian, perbincangan diantara kami pun dimulai.
“Apa yang membuatmu belajar maen Volly?, apa ini karna dia?”, pertanyaan pertamanya terlontar.
“Hah??.. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan apapun atau siapapun. Aku ingin menambah bakatku. Bukan hanya aktif di organisasi, tapi aku ingin aktif juga di olahraga. Kamu sama Noni bisa maen Volly, masak aku gak bisa?”, aku pun menjelaskan panjang lebar.
“Aku dengar kemarin kamu abis ditembak ya?” Tanya Fery.
“Iya..”, jawabku.
“Lalu?”, Fery bertanya lagi.
“Ya gitu deh..!!”, jawabku.
“Kamu terima?”, Fery semakin penasaran.
“Aku gak tau”, sambil memasang muka bingung akupun menjelaskan. “I don’t have feeling yet”, jelasku.
(Fery yang kurang mengerti bahasa inggrispun terlihat sedikit bingung).
“Aku baru kenal sama Adi itu, jadi wajar kalo aku bingung fer. Kalo kamu yang tiba-tiba nembak aku, saat itu juga aku udah punya jawaban buat kamu”, aku menjelaskan lagi.
“Lalu kalo aku yang nembak kamu, jawabanmu apa?”, dia bertanya lagi.
“Ya gak mungkin lah aku nerima kamu, kayak gak ada cowok yang lebih cakep aja, hahaha”, aku pun berusaha mencairkan suasana.
“Adi itu baik, aku sangat mengenalnya, jadi percayalah dia tak akan mengecewakanmu”, kali ini Fery menjelaskan dengan serius. Aku tak pernah melihat dia seserius ini.
Sejenak kamipun terdiam, lalu Fery menatapku tajam.
“Aku sudah lama mengenalmu, bahkan sangat lama. Sejak kamu masih suka ngompol waktu TK pun aku sudah mengenalmu. Semua keburukanmu yang suka berantem itu aku juga tau. Jujur kamu dan Noni adalah orang yang sangat ku sayangi. Jadi aku gak pengen kamu sakit”, dia terdiam dan menunduk.
“Kamu dan Adi adalah sahabatku, aku gak pengen ada yang kecewa diantara kalian”, ujarnya kemudian.
“Apa aku harus menerimanya?”, tanyaku.
Dengan tegas diapun menjawab, “Cobalah untuk mencintainya”.
“Oh My God…lagi??? Kali ini sahabat gue yang jadi jaminannya. Apa-apaan ini?”, gumamku dalam hati.
Sejak perbincanganku dengan Fery itu, aku berusaha untuk menyukai olahraga volley. Dalam proses belajar, aku merasa tidak kuat dan ingin menyerah. Tanganku bengkak dan sangat sakit, beberapa hari kemudian, tanganku terlihat membiru. (Astagaa…memang benar-benar pengorbanan).
Dua minggu setelah belajar bermain volley, ada seleksi pemain di sekolah. Bagi siapapun yang terpilih, berhak bergabung dalam tim. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku pun ikut dalam seleksi tersebut, dan akhirnya aku lolos.
Bergabungnya aku dalam tim volley adalah awal kisah cinta monyetku bersama Adi. Walaupun saat itu perasaanku tetap sama “I’m not fall in love with him”. Tapi aku suka. Aku hanya mengagumi ketampanannya yang sering kali menjadi pusat perhatian dari cewek-cewek di sekolah, kepiyawaiannya dalam bermain volley yang selalu membuat cewek-cewek klepek-klepek. Cewek mana yang merasa tak beruntung mendapatkan cowok seperti dia?. Dan aku tetap bertahan dengan hatiku yang selalu berkata,
“Sure, I’m not proud with this relation, Because exactly, I still want alone”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar