Rumor kedekatanku dengan Satria kembali menghebohkan sekolah. Tapi kita tidak pacaran atau istilah bekennya CLBK (cinta lama belum kelar). Dia menganggapku sebagai sahabat baiknya, begitu juga denganku. Suatu ketika aku dikagetkan dengan kehadirannya pada saat latihan Bulutangkis. Kebetulan saat itu aku terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk lomba antar sekolah. Ternyata dia juga terpilih, tapi karena waktu penyeleksian antara cowok dan cewek berbeda, jadi aku tidak tau.
“Loh…kamu ikutan lomba?” tanyaku kaget.
“Iya dong… kamu ngapain disini Ve?” dia bertanya balik.
“Loh.. aku kan ikut juga,,” jelasku.
“Hahahahaaaa…” dia tertawa ngakak. “Cewek gendut emang bisa maen bulutangkis?” ejeknya.
“Hasssshhh… sialan… lu ngejek gue?” gumamku dalam hati. “Hoho buktinya aku lolos seleksi”, aku menyangkal.
“Halaaahh.. itu kebetulan, pas kamu diseleksi, pak Sugiyo lagi kebelet ke WC” Satria meledek.
“Terserah apa katamu lah, ayo lawan aku..!” aku menantangnya.
Aku dan diapun latihan bersama. Hari itu kali pertama aku bercanda lagi dengan Satria setelah beberapa bulan ini persahabatan kami membeku.
“Ve,, setelah latihan jangan pulang dulu. Kita disuruh kumpul sama semua peserta lomba”, Satria mengingatkanku.
Aku hanya mengangguk dan meneruskan latihanku bersama peserta yang lain.
Latihanpun usai, aku istirahat sejenak dan lanjut berkumpul di ruangan bersama peserta lain.
Di ruangan itu, aku bertemu dengan sahabatku dari kecil dan sekaligus tetanggaku dirumah, namanya Fery dan Noni yang kebetulan dia ikut di olahraga Volly. Kita bertiga sangat akrab, dan kalau kita sedang bertemu, suka bikin heboh dimana-mana.
Technical meetingpun usai, dan aku kembali berkumpul dengan dua sahabat gilaku setelah aku mengucapkan sampai jumpa dengan Satria. Fery dan Noni mengajakku pulang bersama, dan kebetulan saat itu aku belum dijemput.
Ada seorang cowok, dia peserta dari cabang olahraga Volly yang tiba-tiba menyapaku.
“Hai.. kamu temennya Fery ya?” Tanyanya padaku.
“Iya..” aku menjawab. “Kamu siapa? Sepertinya kita belum saling kenal sebelumnya..” aku bertanya balik.
Fery menyambung pembicaraan kami, “Waah… ada yang pedekate nii?”. “Dia Adi, kakak kelas kita Ve”, dia menjelaskan.
“Oh maaf kak, saya kira kakak satu angkatan sama saya”, jawabku gugup. (Gila.. tadi gue kasar banget ngomongnya, gue kira cowok SKSD darimana, eh ternyata kakak kelas).
“hahaha.. kamu lucu,, tadi jutek, sekarang malah gugup” Adi menertawakanku.
Dari pembicaraan singkat itu, akhirnya aku akrab dengan Adi. Aku, Fery, Noni, dan Adi pulang bersama dan menutup perjumpaanku dengan Adi saat ia sampai didepan rumahnya. Maklum rumahnya lebih dekat dengan sekolah daripada rumah kami bertiga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar